Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Inilah Strategi Ngeblog Paling Efektif di Tengah Gempuran AI

Ada satu pertanyaan yang belakangan ini cukup sering muncul di kepala saya. Kalau sekarang AI sudah bisa menulis artikel dalam hitungan detik, lalu untuk apa kita masih ngeblog? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi semakin saya pikirkan, semakin sulit juga saya menemukan jawabannya.

Ngeblog di Era AI

Dulu, ketika ingin membuat sebuah artikel, kita harus mencari bahan, membaca beberapa referensi, menyusun kalimat kemudian duduk berlama-lama di depan laptop sampai tulisan selesai. Sekarang, cukup berikan perintah kepada AI, dalam beberapa detik sudah muncul sebuah tulisan yang rapi. Bahkan bukan hanya satu artikel. Puluhan artikel pun bisa dibuat. 

AI bisa membantu membuat judul, menyusun kerangka, mencari ide, memperbaiki kalimat, membuat ilustrasi bahkan membantu kita memikirkan apa yang sebaiknya ditulis. Lalu saya berpikir, kalau semuanya bisa dilakukan AI, apa yang tersisa untuk seorang blogger?

Saya tidak punya jawaban yang benar-benar pasti. Tetapi semakin lama saya memikirkannya, saya justru sampai pada satu kesimpulan. Saya tidak ingin melawan AI. Saya justru ingin memanfaatkannya. Namun ada satu hal yang tidak ingin saya serahkan kepada AI. Pengalaman, sudut pandang dan cerita saya sendiri. Dan mungkin, di situlah masa depan seorang blogger berada.

Tidak perlu berlomba dengan AI

Saya rasa salah satu kesalahan blogger di era AI adalah mencoba mengalahkan AI dalam hal yang memang menjadi keunggulan AI. AI bisa menulis dengan cepat. AI bisa menghasilkan tulisan dalam jumlah banyak. AI bisa menyusun kalimat dengan rapi. AI tidak pernah mengeluh karena harus menulis artikel kedua puluh dalam sehari. 

Kalau kita mencoba bersaing dalam hal itu, saya rasa kita akan kalah. Untuk apa saya memaksa diri menulis sepuluh artikel sehari kalau AI bisa membantu menghasilkan puluhan artikel dalam waktu yang jauh lebih singkat? 

Saya tidak melihat itu sebagai pertandingan yang harus saya menangkan. Saya justru ingin mengambil posisi yang berbeda. Biarlah AI menjadi cepat. Saya ingin menjadi manusia. Saya tidak harus menghasilkan tulisan sebanyak AI. Saya hanya perlu menghasilkan tulisan yang memiliki sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan dari tulisan generik. Sesuatu itu adalah pengalaman.

AI bisa menjelaskan, tetapi tidak mengalami

Misalnya saya ingin menulis tentang domain MY.ID. AI bisa menjelaskan apa itu MY.ID. AI bisa menjelaskan kelebihan dan kekurangannya. AI juga bisa membandingkannya dengan .COM, .NET, .ID dan berbagai ekstensi lainnya. 

Semua itu berguna. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan AI. AI tidak pernah benar-benar mengalami bagaimana rasanya ketika seseorang memutuskan membeli sebuah domain dengan uangnya sendiri. AI tidak merasakan kebingungan ketika harus memilih nama domain. AI tidak merasakan senang ketika sebuah domain akhirnya aktif. AI tidak merasa kecewa ketika blog yang dibangun dengan susah payah ternyata sepi pengunjung. AI juga tidak mengalami perasaan ketika seseorang memutuskan kembali ngeblog setelah lama berhenti.

Itulah wilayah manusia. Kita mungkin tidak bisa menulis secepat mesin. Tetapi kita mempunyai sesuatu yang tidak bisa dibuat hanya dengan perintah: cerita hidup kita sendiri. Dan setiap orang memiliki cerita yang berbeda.

Pengalaman sederhana justru bisa menjadi tulisan yang berharga

Saya semakin percaya bahwa seorang blogger tidak harus selalu mencari topik yang luar biasa. Kadang-kadang, pengalaman yang menurut kita biasa saja justru menarik bagi orang lain. Misalnya kita pernah membeli domain. Pernah salah memilih template. Pernah membuat blog kemudian meninggalkannya. Pernah menulis artikel yang ternyata tidak ada yang membaca. Pernah menghabiskan waktu berjam-jam memperbaiki satu bagian kecil dari blog. Pernah mengejar trafik tetapi akhirnya sadar bahwa trafik bukan satu-satunya alasan seseorang menulis.

Hal-hal seperti itu mungkin terasa biasa bagi kita. Tetapi bagi orang lain yang sedang mengalami hal yang sama, pengalaman tersebut bisa sangat berarti. Karena pembaca tidak selalu membutuhkan seseorang yang paling pintar. Kadang-kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang sudah pernah melewati jalan yang sedang mereka tempuh.

Jangan hanya menulis apa yang diketahui, tulislah apa yang dialami

Saya pikir ini adalah perubahan cara pandang yang cukup penting. Selama ini kita sering berpikir bahwa untuk membuat artikel, kita harus mengetahui banyak hal. Padahal tidak selalu begitu. Kita juga bisa menulis karena pernah mengalami sesuatu.

Ada perbedaan besar antara: 
"Berikut adalah cara memilih domain yang bagus."
dengan:
"Setelah beberapa kali menggunakan berbagai domain, akhirnya saya mulai memahami apa yang sebenarnya saya cari dari sebuah nama domain."
Yang pertama bisa dibuat siapa saja. Yang kedua membutuhkan pengalaman. Dan pengalaman itulah yang membuat tulisan terasa lebih hidup. Saya bisa meminta AI menjelaskan tentang blogging. Tetapi saya tidak bisa meminta AI menjalani perjalanan blogging saya. Itu bagian yang harus saya kerjakan sendiri.

Jangan takut menceritakan kegagalan

Ada satu hal lagi yang menurut saya semakin penting di era AI: kejujuran. Internet sudah penuh dengan tulisan yang terdengar sempurna. Semua seolah-olah tahu jawabannya. Semua punya strategi. Semua punya cara sukses. Semua seolah-olah sudah berhasil. Padahal kenyataannya, perjalanan seseorang tidak selalu seperti itu.

Saya sendiri lebih tertarik membaca tulisan seseorang yang berkata,

"Saya pernah mencoba cara ini dan ternyata gagal."
daripada seseorang yang hanya berkata,
"Inilah cara terbaik untuk sukses."
Kegagalan juga merupakan pengalaman. Bahkan terkadang pengalaman gagal jauh lebih berguna daripada cerita sukses. Karena ketika seseorang menceritakan kegagalannya, kita bisa belajar dari sesuatu yang benar-benar pernah terjadi. Itulah sebabnya saya tidak ingin blog hanya berisi hal-hal yang terlihat bagus. Kalau memang pernah salah, ya tulis saja. Kalau pernah bingung, ceritakan. Kalau pernah mencoba sesuatu dan ternyata tidak berhasil, tidak ada salahnya mengakuinya. Menurut saya, tulisan seperti itu justru terasa lebih manusiawi.

Lalu, di mana posisi AI?

Bukan berarti saya menolak AI. Justru sebaliknya. Saya pikir AI adalah salah satu alat paling menarik yang pernah hadir bagi seorang blogger. Saya bisa menggunakan AI untuk mencari ide ketika sedang buntu. Saya bisa berdiskusi dengannya ketika belum menemukan sudut pandang. Saya bisa meminta bantuan untuk membuat kerangka tulisan. Saya bisa menggunakannya untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum terpikirkan. Saya juga bisa meminta AI membantu memperbaiki tulisan yang sudah saya buat. Tetapi ada satu batas yang ingin saya pertahankan. AI boleh membantu saya berpikir, tetapi jangan sampai AI mengambil alih alasan saya menulis.

Saya tidak ingin prosesnya menjadi seperti ini: Keyword → AI → artikel → publish. 

Saya lebih suka: Pengalaman → ide → berdiskusi dengan AI → menulis → memperbaiki → publish. 

Perbedaannya memang terlihat kecil. Tetapi bagi saya, perbedaannya sangat besar. Pada proses pertama, AI menjadi sumber utama tulisan. Pada proses kedua, saya tetap menjadi sumber ceritanya. AI hanya membantu saya mengolahnya.

Jadikan AI sebagai teman diskusi

Saya bahkan mulai melihat AI bukan sebagai penulis pengganti, tetapi sebagai teman diskusi. Misalnya saya punya pengalaman tentang membeli domain. Saya bisa bercerita kepada AI tentang pengalaman tersebut. Kemudian saya bertanya:

"Menurut kamu, bagian mana dari pengalaman ini yang menarik untuk pembaca?"

Dari sana mungkin muncul beberapa pertanyaan baru. 

  • Kenapa saya memilih domain tersebut?
  • Apa pertimbangan saya?
  • Apakah saya pernah menyesal?
  • Apa yang saya pelajari?
  • Apa yang akan saya lakukan berbeda jika mengulanginya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa membantu saya menggali cerita yang sebenarnya sudah ada di kepala saya. Jadi AI bukan menciptakan pengalaman saya. AI membantu saya menemukan cara untuk menceritakannya. Dan menurut saya, itu adalah pemanfaatan AI yang jauh lebih menarik.

Dokumentasikan perjalanan, bukan hanya membuat tutorial

Ada masa ketika saya berpikir bahwa blog harus selalu memberikan solusi. Kalau tidak membuat tutorial, rasanya tulisan tersebut kurang berguna. Sekarang saya mulai berpikir berbeda. Blog juga bisa menjadi tempat untuk mendokumentasikan perjalanan.

Tidak semua tulisan harus berbentuk:

"Cara melakukan X."

Kadang tulisan seperti:

"Kenapa saya memilih X."
"Apa yang terjadi ketika saya mencoba X."
"Kesalahan saya ketika melakukan X."
"Setelah beberapa tahun melakukan X, ini yang saya sadari."

Justru lebih menarik. Karena tulisan seperti itu mempunyai cerita. Dan cerita tidak harus selalu sempurna. Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya terasa nyata.

Saya tidak ingin blog saya menjadi kumpulan artikel yang sempurna

Mungkin ini terdengar aneh. Tetapi saya tidak ingin blog hanya menjadi tempat untuk mengumpulkan artikel yang semuanya terlihat sempurna. Saya ingin ketika seseorang membaca tulisan saya, dia bisa merasakan bahwa ada seseorang di balik tulisan tersebut.

Ada orang yang pernah bingung. Ada orang yang pernah salah. Ada orang yang pernah mencoba. Ada orang yang kadang berhasil dan kadang gagal. Ada orang yang masih belajar.

Dan menurut saya, itu jauh lebih menarik daripada blog yang isinya hanya kumpulan informasi yang bisa dibuat siapa saja. Sebab kalau semua blog akhirnya mempunyai tulisan yang sama, dengan struktur yang sama, bahasa yang sama dan informasi yang sama, lalu apa alasan pembaca harus mengingat kita?

Mungkin jawabannya bukan lagi pada seberapa banyak informasi yang kita berikan. Tetapi pada siapa yang menyampaikan informasi tersebut.

Strategi ngeblog saya mungkin sederhana

Kalau kemudian saya ditanya, "Jadi apa strategi ngeblog paling efektif di tengah gempuran AI?" Jawaban saya sebenarnya cukup sederhana. Jangan mencoba menjadi AI. Jadilah manusia. Tulislah apa yang pernah kita alami. Ceritakan apa yang kita pikirkan. Bagikan apa yang kita pelajari. Akui ketika kita salah. Ceritakan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Gunakan pengalaman pribadi sebagai bahan utama. Kemudian gunakan AI untuk membantu kita mengolah semuanya menjadi tulisan yang lebih baik. Dengan cara seperti itu, AI bukan menjadi ancaman bagi blog. AI justru menjadi alat yang membuat seorang blogger bisa bekerja lebih mudah.

Kita tidak perlu menulis semuanya dari nol. Tetapi kita juga tidak perlu menyerahkan semuanya kepada mesin.

Mungkin inilah masa depan blogging

Saya tidak tahu bagaimana dunia blogging lima atau sepuluh tahun ke depan. Mungkin AI akan jauh lebih pintar daripada sekarang. Mungkin membuat artikel nantinya hanya membutuhkan beberapa detik. Mungkin internet akan dipenuhi tulisan yang sebagian besar dibuat dengan bantuan AI. 

Saya juga tidak tahu apakah jumlah orang yang membaca blog akan semakin banyak atau justru semakin sedikit. Tetapi saya yakin pada satu hal. Manusia akan selalu mempunyai pengalaman untuk diceritakan. Seseorang akan selalu punya perjalanan hidup. Akan selalu ada orang yang mencoba sesuatu untuk pertama kali. Akan selalu ada orang yang gagal. Akan selalu ada orang yang menemukan cara yang lebih baik. Dan akan selalu ada seseorang yang ingin membaca pengalaman orang lain sebelum mengambil keputusan.

Selama itu masih ada, saya rasa blog belum selesai. Mungkin yang berubah hanyalah cara kita mengisinya.

Saya tetap ingin ngeblog

Pada akhirnya, saya tidak ingin menjadikan AI sebagai alasan untuk berhenti ngeblog. Saya justru ingin menjadikannya alasan untuk belajar ngeblog dengan cara yang berbeda. Saya tidak ingin berlomba dengan AI dalam menghasilkan tulisan terbanyak. Saya juga tidak ingin membuktikan bahwa tulisan manusia selalu lebih baik daripada tulisan AI. Saya hanya ingin mempertahankan satu hal: suara saya sendiri.

Kalau saya punya pengalaman, saya akan ceritakan. Kalau saya punya pendapat, saya akan tuliskan. Kalau saya melakukan kesalahan, mungkin akan saya ceritakan juga. Kalau saya menemukan sesuatu yang bermanfaat, saya akan membagikannya. Dan kalau saya membutuhkan bantuan AI untuk menyusun semuanya menjadi lebih baik, saya tidak akan malu menggunakannya.

Karena bagi saya, menggunakan AI bukan berarti kehilangan sisi manusia. Yang membuat tulisan kehilangan sisi manusianya adalah ketika kita tidak lagi mempunyai sesuatu dari diri kita sendiri di dalam tulisan tersebut.

Jadi, mungkin strategi ngeblog paling efektif di tengah gempuran AI bukanlah mencari cara untuk mengalahkan AI. Tetapi mencari sesuatu yang hanya kita yang punya. Pengalaman kita. Sudut pandang kita. Kesalahan kita. Perjalanan kita. Dan cerita kita. AI boleh membantu saya menulis. Tetapi cerita hidup saya tetap milik saya.

Dan selama saya masih mempunyai cerita untuk diceritakan, saya rasa saya masih punya alasan untuk terus ngeblog.

Hatim Al Firouz
Hatim Al Firouz Jika kau tak kunjung menemukan yang lebih baik dariku, kembalilah! Bahuku akan tetap menjadi sandaran ternyaman untukmu.

Post a Comment for "Inilah Strategi Ngeblog Paling Efektif di Tengah Gempuran AI"